Kahanane urip iki tansah gilir gumanti. Bungah susah iku lumrah, kabeh uwong ngalami. Manungso ora kuwoso, isane mung ngrencana. Wajib usaha lan donga, Pangeran kang nentokno

Sabtu, 17 Desember 2011

Semangat Mbah Sarwi

Kukenal Mbah Sarwi sebagai pedagang sayur di Pasar Minggu. Aku memang sering berbelanja sayur di sana. Usianya mungkin sekitar 60 tahun. Tubuhnya ringkih dibalut kain kebaya. Memang tampak sederhana, karena Mbah Sarwi tidak memiliki perhiasan yang layak untuk dipamerkan. Kalaupun ada yang berharga, hanyalah sepasang anting emas di telinganya. Sementara di tangan kirinya terjuntai dua buah gelang karet berwarna kuning.

Tapi aku sangat menghormatinya karena Mbah Sarwi adalah guruku. Guru yang membukakan mataku tentang sisi lain kehidupan, mengajariku tentang arti kepasrahan kepada Tuhan, juga semangat pantang menyerah.

Pernah aku bertanya, apakah Mbah Sarwi tidak merasa takut bersaing dengan supermarket, hypermarket bahkan pedagang lain yang menjadi saingannya? Beliau hanya menjawab bahwa "rejeki kuwi wis ono sing ngatur, ono dino yo ono upo." (rejeki itu sudah ada yang mengatur, ada hari ya ada rejeki). Sempat sesekali aku berpandangan negative bahwa mungkin sikap beliau adalah cermin sebuah keterbelakangan , moral peasant. Menurut Samuel W. Popkin (?), seorang petani lebih bodoh dari buruh. Sehingga dianalogikan bahwa petani akan berteriak adanya banjir apabila air telah mencapai leher. Dan Mbah Sarwipun mungkin baru akan menyadari kekeliruannya setelah modalnya habis dan bangkrut.

Akan tetapi sekitar dua tahun aku berlangganan, tidak kutemukan sebuah kemunduran. Bahkan kini Mbah Sarwi bisa membeli sebuah timbangan. Biasanya beliau meminjam timbangan dari pedagang sayur di sampingnya. Beliau juga bercerita bahwa beliau baru saja menjenguk keluarganya di Madiun, karena cucunya dikhitan. Dan beliau bersyukur karena Tuhan terus memberikan berbagai kebahagiaan di penghujung usianya.

Kepasrahannya kepada Tuhan menunjukkan betapa hukum Tuhan memanglah misteri.

Di sore itu beliau berkata,"Kahanane urip iki tansah gilir gumanti. Bungah susah iku lumrah, kabeh uwong ngalami. Manungso ora kuwoso, isane mung ngrencana. Wajib usaha lan donga, Pangeran kang nentokno."
(Keadaan hidup ini silih berganti. Susah senang itu biasa, semua orang mengalami. Manusia tidak kuasa, hanya bisa berencana. Wajib usaha dan doa, Pangeran yang menentukannya)

Tidak ada komentar: