Saya seorang penakut sampai sekarang. Saya takut apa yang saya rencanakan ke depan pada akhirnya gagal, seperti setumpuk kegagalan yang pernah terjadi sebelumnya. Saya takut mati sebelum karya saya menjadi benar-benar bermanfaat dan menginsfirasi banyak orang. Saya takut dengan kebohongan-kebohongan dan kepalsuan yang bisa saja berbalut sikap manis dan penuh hormat dihadapan saya, namun meracuni saya dibelakang.
Saya takut meyakini sesuatu yang salah. Saya terlalu khawatir, jangan-jangan saya ini korban penipuan seseorang. Saya takut sekali jika sesuatu atau seseorang yang sangat saya cintai tiba-tiba pergi dengan cara yang mungkin tidak pernah saya sangka. Saya takut kehilangan dan saya takut dibohongi orang.
Sampai kemudian pada suatu pagi saya menyempatkan diri untuk merenung, sendirian, setelah sebelumnya berkutat dengan tulisan yang tak kunjung usai padahal deadline sudah dekat. Membiarkan lembar komputer di hadapan saya kosong tanpa hurup yang terangkai menjadi kata-kata. Lalu saya berselancar masuk ke berita Yahoo, Facebook dan Twitter. Selintas-selintas saja karena hati dan pikiran saya tak karuan berbisik dan berdebat soal ketakutan-ketakutan itu. Lalu tiba-tiba saja ada bisikan lain yang terdengar, suaranya lebih kecil dari suara-suara lainya yang biasa berkecanmbuk dengan jiwa saya. Tapi saya masih bisa mendengarnya. Suara-suara itu seolah ingin memberitahu bahwa jika terus menerus berkutat pada ketakutan-ketakuan itu, saya bisa saja mati lebih cepat dari umur yang dijatahkan Tuhan.
Saya akan kehilangan orang-orang yang saya cintai bukan karena mereka pergi tapi karena saya yang akan meninggalkan mereka. Selain itu, karya besar yang saya niatkan bisa menginspirasi dan memberi kekuatan pada orang lain mungkin tak akan pernah terwujud.
Setelah mendengar suara kecil itu, saya tak bisa tinggal diam dan membiarkan ketakutan-ketakutan itu menggerogoti sel-sel tubuh saya secara perlahan. Masih banyak yang yang harus saya perjuangkan ketimbang tenggelam dalam ketakutan yang hanya membuat saya kian rapuh. Tak peduli apa yang akan terjadi kedepan dan waktu-waktu yang selanjutnya.
Yang saya tahu hanyalah daftar tugas saya masih panjang. Bangkit dan berjuang ada diurutan pertama. Sudan pasti saya tidak akan mampu bangkit jika terus membiarkan pikiran-pikiran konyol bertahta diotak saya.
Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya. Jika gagal, toh, saya masih bisa belajar lagi. Jika seseorang bersikap penuh kepalsuan kapada saya, itu pilihannya sendiri dan tak ada hubungannya sama sekali dengan diri saya.
Jika seseorang bersikap jahat kepada saya, tidak apa-apa. Saya punya Tuhan Yang Maha Adil dan tak akan tinggal diam dengan kejaahat seseorang. Saya hanya perlu menjalani hidup saya dan mengerjakan daftar tugas yang saya rancang sendiri. Lainnya? Biar Tuhan yang mengawasi.
(Dikutip Dari Sekar Edisi 72/11)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar